Kemegahan Festival Gandrung Sewu dan  5 Fakta Uniknya

Banyuwangi terkenal sebagai kota para penari. Tidak heran jika di Banyuwangi pada bulan Oktober kemarin diadakan festival  Gandrung Sewu.  Festival ini sendiri melibatkan ribuan penari yang bergerak indah dalam harmoni dengan latar belakang alam indah Banyuwangi.

Ingin tahu apa saja  fakta dari tarian gandrung sewu dan keseruan festivalnya? Yuk cari tahu dari informasi di bawah ini.

Apa itu Tari Gandrung sewu?

Gandrung Sewu  dalam bahasa Jawa berarti Seribu Gandrung, merupakan gelaran festival tahunan tari Gandrung kolosal di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang merupakan salah satu bagian Banyuwangi Festival.

Asal usul tari gandrung sendiri ditulis dalam sebuah makalah berjudul Gandroeng Van Banyuwangi yang ditulis oleh John Scholte pada tahun 1926. Menurut Scholte, tarian ini dibuat oleh seorang pemuda bernama Marsan yang menarikan tari gandrung bersama pemain musik tradisional di jalanan. Mereka melakukan itu dengan berkeliling ke desa-desa dan diberi penghargaan berupa beras dan bahan pokok lainnya.

Acara ini diadakan sejak tahun 2012, yang pada awalnya digelar untuk mengenalkan kebudayaan Banyuwangi khususnya Gandrung ke khalayak luas. Pada saat ini Gandrung Sewu sudah menjadi ikon pariwisata budaya Banyuwangi. Acara ini diadakan setiap tahun sekali di Pantai Boom, yang berlatarkan selat Bali

5 Fakta Unik dari Tarian Gandrung Sewu

1.   Perpaduan Budaya Jawa dan Bali

Tarian Gandrung Sewu membawa nuansa Bali yang kental pada tata tarinya yang sebagian besar menggunakan perbendaharaan gerak tari tradisional Bali. Sementara unsur Banyuwangi dihadirkan dalam balutan busananya, khususnya pada gelungan atau tutup kepalanya.

Hiasan pada kepala penari Gandrung dikenal sebagai omprok. Omprok terbuat dari kulit kerbau yang dimasak dan diberi ornamen berwarna emas dan merah serta ornamen Anthasena. Anthasena merupakan putra Bima yang berkepala manusia dan berbadan ular.

2.   Dulu Ditarikan oleh Pria

Di masa kini, Tarian Gandrung Sewu lebih banyak ditarikan oleh perempuan. Padahal di masa lampau, Tarian Gandrung Sewu dilakoni oleh para pria yang didandani seperti wanita.

Informasi ini didapatkan kumparan dari tulisan Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar yang berjudul “Banyuwangi  Hormati Erotisme Gandrung.”  Tarian Gandrung Sewu yang dilakoni kaum pria bertahan hingga tahun 1890-an, sampai penari pria terakhirnya yang bernama Marsam meninggal dunia.

Tarian Gandrung Sewu yang dilakoni wanita baru dihadirkan pada tahun 1914. Gandrung wanita pertama Banyuwangi bernama Semi, ia adalah gadis kecil yang sakit-sakitan dan hanya bisa sembuh ketika ia menarikan Tarian Gandrung Sewu.

3.   Tak Bisa Sembarangan Dibawakan

Tarian Gandrung Sewu awalnya tidak boleh sembarangan dibawakan. Tarian itu hanya bisa ditarikan oleh para penari keturunan penari Gandrung sebelumnya.

Namun sejak tahun 1970-an, sudah banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan penari Gandrung yang mempelajari tarian tersebut dan menjadikannya sebagai pekerjaan.

Apalagi sejak akhir abad ke-20, ketika eksistensinya makin terdesak. Kini semakin banyak orang yang tertarik mempelajari dan menekuni Tarian Gandrung Sewu demi melestarikannya.

4.   Dulu Ditarikan Semalam Suntuk

Di masa lalu, Tarian Gandrung bisa dilakukan semalam suntuk,  sebab dalam Gandrung Banyuwangi terdapat tiga tahapan tarian yaitu jejer, maju, dan seblang subuh.

Sementara di masa kini, Gandrung hanya digelar sekitar 60 menit saja.

Pada tahapan maju atau yang dikenal pula sebagai ngibing, biasanya para penari akan memberikan selendangnya pada tamu dan mengajak mereka menari bersama. Biasanya tamu-tamu atau undangan penting akan mendapat kesempatan lebih dulu.

Bagian inilah yang menjadi bagian terheboh dan dapat berlangsung hingga menjelang subuh. Jejer adalah bagian pembuka ketika para penari menari dan menyanyi solo, dan seblang subuh merupakan semacam ritual magis namun tak sering ditampilkan.

5.   Tarian untuk Mengucapkan Syukur Pada Dewi Sri

Tarian Gandrung Sewu awalnya merupakan sebuah ritual yang ditujukan untuk memanjatkan rasa syukur atas hasil panen kepada Dewi Sri.

Dewi Sri adalah seorang dewi dalam mitologi Hindu Jawa Kuno yang dianggap sebagai Dewi Padi atau Dewi Kesejahteraan, yang memberikan hasil panen berlimpah pada masyarakat.

Namun seiring waktu, Tarian Gandrung Sewu tak hanya menjadi alat mengucap syukur semata pada Dewi Sri, tetapi juga alat pemersatu masyarakat.

Lewat tarian ini, masyarakat Banyuwangi menikmati waktu bersama untuk saling menghibur dan mengunjungi kerabatnya yang tinggal terpisah, selepas kalah dalam perang melawan penjajah.

Dalam beberapa kesempatan, perlawanan yang gigih melawan Belanda dan membela Indonesia, justru menjadi inti cerita yang dibawakan dalam Festival Gandrung Sewu. Menarik sekali, kan

Festival Gandrung Sewu 2022

Meskipun Festival Gandrung Sewu telah usai, namun kemeriahannya masih menyisakan  banyak cerita yang menarik. Festival ini telah terselenggara pada bulan oktober tanggal 29 2022. Festival ini terbuka untuk umum dan bersifat gratis alias tidak dipungut biaya.  Festival ini digelar di salah satu tempat wisata Kabupaten Banyuwangi, yakni Pantai Marina Boom.  Penyelenggaraan tari  gandrung sewu adalah  pada siang dan sore hari, yakni pukul 14.00 WIB sampai 16.30 WIB.

Pada perayaan festival ini, penari menampilkan tarian kolosal pada Festival Gandrung Sewu 2022 di Pantai Marina Boom, Banyuwangi, Jawa Timur. Festival yang menampilkan 1.188 penari gandrung itu mengangkat tema Kemilau Bumi Blambangan yang menceritakan tentang kebangkitan Kerajaan Blambangan setelah masyarakatnya terserang penyebaran wabah penyakit.

Walaupun Festival Gandrung Sewu telah berakhir. Kamu tidak perlu cemas. Masih ada festival menarik lainnya yang layak kamu datangi. Cari tahu Jadwalnya di Website Karisma Event Nusantara sekarang juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *